Senin, 05 September 2016

Hai hai...
Kali ini saya mau bahas soal lem. Yang ga tertarik sama lem, boleh balik kanan-bubar-jalan. Yang sering nguprek sama lem, boleh kita ngerumpi bareng hihihi

Craft item yg satu ini bisa dibilang salah satu senjata pamungkas para crafter yg bisa berujung jadi kolektor lem. Yang cuma tau lem kertas sama lem besi, bisa belajar bareng buat kenal macem2 lem yang akan fajri and bubbles bahas.

Menurut pengamatan matalogi yg cuma punya radius penglihatan sekian meter, ada beragam jenis lem berdasarkan macam-macam kategorinya. Kategori paling sederhana adalah lem tradisional dan lem modern. Untuk lem modern ga usah dijelasin ya, kan banyak bertebaran lem modern hasil produksi pabrik dalam negri maupun import. Sedangkan lem tradisional adalah lem yang berasal dari pati, baik itu pati beras, sagu, dan sejenisnya.

Lebih dalam mengenai lem tradisional atau lem pati, jenis ini bisa dibilang yang tertua di dunia. Masyarakat indonesia, biasa menggunakan tepung sagu untuk membuat lem tradisional. Caranya dengan melarutkan tepung sagu pada semangkuk air, lalu larutan tersebut dimasak sambil diaduk hingga menggumpal. Lem sagu sering digunakan dalam berbagai project kerajinan di sekolah anak-anak. Tapi sayangnya, lem sagu tidak bisa bertahan lama. Karena itu buatlah sesuai dengan kebutuhan, jangan berlebih. Penambahan garam pada saat memasak lem sagu dan menyimpannya dalam botol kaca di lemari es bisa menambah daya tahan lem hingga beberapa hari.

Bisa ga dari tepung pati yang lain? Ada yang bisa dan ada yang tidak. Untuk lem pati beras, tidak disarankan membuatnya dari tepung beras. Buatlah dari beras utuh. Masak beras dengan beberapa mangkuk air hingga menjadi bubur lem. Proses ini membutuhkan waktu yg cukup lama.

Selain dari sagu dan beras, kita bisa membuat lem tradisional dari tepung ketan. Bahan ini yang menurut saya paling nyaman digunakan. Cara membuatnya sama seperti lem sagu. Lem tepung ketan ini lembut dan kenyal dan mudah dikuas pada bidang. Berbeda dengan lem sagu yang kenyal dan liat, sulit diratakan pada bidang.

Lem tradisional dari pati ini biasa digunakan untuk lem kertas. Meski sebenarnya lem ini juga cukup tangguh jika diaplikasikan pada kayu dan bahan-bahan dengan pori-pori besar lainnya dengan syarat terhindar dari air.
Hai hai...
Insya Allah fajri akan mulai banyak sharing segala eksperimen yang fajri lakukan. Mulai dari persiapan, progres, dan hasil akhirnya. Segala eksperimen ini dilakukan untuk memenuhi rasa ingin tahu, meski kadang ide eksperimennya kadang aneh bin ajaib.

Sebenarnya fajri hanya tertarik pada dunia craft. Tapi juga suka ngikutin beberapa komunitas hobi. Pernah ikut beladiri juga sampai ditawarin jadi pelatih tapi malah kabur. Punya alat-alat pertukangan macam tang, obeng, kawat, sampe jarum sol sepatu. Sekarang malah lagi asik mainan instagram biar akunnya bisa dijual kalo followersnya udah banyak (*eh?).

Jadi intinya, saya itu benar-benar cuma suka craft, tapi selingkuhannya banyak, Hihihi... Kalo diibaratkan permen, ini tuh kayak permen nano-nano. Ada asemnya, manisnya, asinnya, semua ada deh. Bahkan, kalau orang rumah butuh ATK macam jegregan (staples/hacker), klip kertas, lem, gunting, mereka tau harus pergi kemana. Yaitu pergi ke kamar fajri, karena di sana lah letak harta karun itu berada.

Anehnya mereka itu agak susah untuk segera mengembalikan barang-barang yang mereka pinjam. Pinjamnya sih udah bagus, minta izin dulu sama yg punya barang. Begitu fajri butuh kudu nagih ala rentenir yang suka keliling kampung.

Pokoknya disini fajri akan ngobrol santai bareng kawan-kawan yang ikutan baca postingan fajri ;)

Senin, 07 April 2014

Open House Flandee Craft

Assalamu'alaikum...
mulai kembali belajar nge-blog..
meski udah basi, tetep aja kan blog itu masih eksis...
nah, bloh ini memang hanya di-khusus-kan untuk produk2 flandee craft dan hal disekitarnya... ^^
semoga bisa konsisten dalam berbagi ilmu ya.... ^^